Oleh: DR. Attabiq Luthfi, MA
“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang Hidup Kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk)Nya, tidak mengantuk dan tidak pula tidur. MilikNya segala apa yang ada di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa seizinNya. Allah Mengetahui apa-apa yang ada di hadapan dan di belakang mereka. Sedangkan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendakiNya. Kursi Allah luasnya meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya dan adalah Allah Maha Tinggi lagi Maha Agung”.
Ayat di atas yang masyhur dengan nama ayat kursi terdapat di dalam surah Al-Baqarah ayat 255. Penamaan ayat ini bukan ijtihad para ulama, tetapi Rasulullah sendiri yang menamakannya. Tersebut dalam salah satu riwayat bahwa ketika Rasulullah saw ditanya oleh salah seorang sahabatnya tentang “ayat apa yang paling agung dari kitabullah?” Beliau menjawab, “Ayat Kursi”, kemudian Rasulullah membaca ayat ini. (Hadits riwayat Imam Ahmad dan Nasa’i). Dan memang, kata ”kursi” sendiri terdapat di dalam ayat ini yang menjadi salah satu argumen penamaan ayat ini seperti juga penamaan surah-surah Al-Qur’an yang lain.
Ayat kursi sangat kental dengan nuansa akidah, terutama akidah kepada Allah swt, yaitu akidah akan sifat-sifat Allah yang berbeda dengan sifat seluruh makhlukNya. Kejelasan akan sifat-sifat Allah sangatlah penting untuk menghindari dominasi khurafat, mitos dan syubhat yang kerap kali menutupi hati dan pandangan manusia. Justru Islam datang untuk menyelamatkan dan membersihkan hati manusia dari timbunan kotoran yang demikian berat, serta dari kesesatan dan kebingungan dalam kegelapan. Sehingga secara korelatif dijelaskan pada ayat setelahnya: ”Tidak ada paksaan dalam beragama”, bahwa akidah yang dibawa oleh Islam adalah akidah yang berdasarkan kerelaan hati setelah mendapat keterangan dan penjelasan yang terang benderang, bukan berdasarkan pemaksaan dan tekanan.
Menurut Ibnu Athiyah, yang dimaksud dengan kursi, berdasarkan hadits-hadits Rasulullah saw, adalah makhluk Allah yang agung yang berada di antara Arsy Allah swt, sedangkan Arsy Allah tentunya lebih besar berbanding kursiNya. Perbandingan antara keduanya seperti yang dituturkan oleh Rasulullah dalam sebuah hadits riwayat Abu Dzar, “Bukanlah kursi Allah yang berada di Arsy Allah itu melainkan hanya seperti sebuah lingkaran besi yang dilemparkan di salah satu penjuru bumi”.
Penyebutan kata “kursi” yang secara fisik inderawi bisa digambarkan layaknya kursi tempat duduk manusia, begitu juga ungkapan ”dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya” sememangnya menurut Sayyid Qutb adalah untuk memudahkan manusia memahami dan menggambarkan keagungan dan luasnya kekuasaan Allah yang meliputi langit dan bumi, “Luasnya Kursi Allah meliputi langit dan bumi”. Ungkapan dalam kalimat deskripsi inderawi seperti ini akan memberikan kesan yang kuat dan mendalam serta mantap di dalam hati mengenai hakikat yang dimaksud.
Berdasarkan analisa bahasa yang dikemukakan oleh Az-Zamakhsyari bahwa penyebutan sifat-sifat Allah yang terkandung dalam ayat kursi ternyata tidak menggunakan kata penghubung (wau athaf) yang biasa digunakan dalam susunan kalimat bahasa Arab untuk menghubungkan antara satu kata dengan kata lainnya. Redaksi yang demikian ini menunjukkan kekuatan bayan (penjelasan) pada seluruh sifat-sifat Allah swt yang tersebut dalam ayat ini. Paling tidak terdapat empat penjelasan tentang sifat-sifat Allah dalam ayat kursi, yaitu: pertama, penjelasan akan keesaan Allah dalam mengatur seluruh makhlukNya. Kedua, penjelasan bahwa Allah adalah Raja atas seluruh makhluk yang diaturNya. Ketiga, penjelasan akan luasnya ilmu Allah yang mencakup seluruh makhlukNya, sampai kepada mereka yang diridhoi dan berhak mendapat syafa’atNya dengan mereka yang tidak berhak mendapatkannya. Dan keempat, penjelasan tentang pengetahuan Allah akan seluruh maklumat yang tersebar di langit dan bumi.
Wajar jika Ibnu Katsir menyimpulkan bahwa ayat kursi merupakan ayat yang paling agung dalam Al-Qur’an (A’dlomu ayatin fil Qur’an) dan memiliki kedudukan dan keutamaan yang banyak. Di antara keutamaan ayat kursi seperti yang ditegaskan dalam beberapa hadits Rasulullah diantaranya: pertama, ayat kursi merupakan pelindung dan benteng dari godaan syetan. Kedua, nilai ayat kursi setara dan sebanding dengan seperempat Al-Qur’an.
Sebuah kisah yang diutarakan oleh ayah Abdullah bin Ubay bin Ka’ab menjadi bukti nyata akan keampuhan ayat kursi sebagai pelindung. Ia menceritakan bahwa pada suatu malam ketika melihat-lihat kebun kurma miliknya, tiba-tiba ia terserempak dengan seekor hewan yang mirip dengan seorang anak yang baru menginjak usia baligh. Maka ayah Abdullah bin Ubay bin Ka’ab mengucapkan salam yang langsung dijawab oleh anak itu.
Kemudian dengan nada penasaran ia bertanya, “Siapakah kamu? Apakah kamu dari golongan jin atau manusia?”. Dengan singkat anak itu menjawab, “Dari golongan jin”. Akhirnya ia meminta jin itu untuk mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Ternyata ketika disentuh, tangannya seperti tangan anjing dan juga bulunya. Maka aku bertanya, “Apakah demikian jin diciptakan?”. Jin itu menjawab, “Bahkan ada yang lebih hebat dari ini”. “Apakah yang mengundang kamu datang kemari?”. Ayah Abdullah bin Ubay kembali bertanya. “Telah sampai berita kepadaku bahwa engkau adalah seorang yang sangat dermawan. Aku ingin mendapatkan sedekahmu”. “Jika memang demikian, aku ingin bertanya, apa yang dapat melindungi kami dari godaanmu?”. Pinta Abdullah bin Ubay. Dengan tegas, jin itu menjawab, “Ayat kursi”. Keesokan harinya, Ayah Abdullah bin Ubay menceritakan kepada Rasulullah apa yang dialaminya tadi malam. Maka Rasulullah bersabda, “Apa yang dikatakan oleh jin itu benar, tetapi dia tetap makhluk yang kotor”. (Diriwayatkan oleh Al-Hakim).
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dijelaskan kedudukan ayat kursi yang senilai dengan seperempat Al-Qur’an. Anas bin Malik menceritakan bahwa Rasulullah saw pernah bertanya kepada salah seorang sahabatnya, “Wahai fulan, sudahkan kamu menikah?”. Sahabat itu menjawab, “Saya tidak memiliki apapun untuk menikah”. Rasulullah bertanya kembali, “Bukankah bersama engkau (hafal) Al-Ikhlash?”. Ia menjawab, “Benar wahai Rasulullah”. Rasulullah menjelaskan, “Ia sebanding dengan seperempat Al-Qur’an”. Rasulullah terus bertanya pertanyaan yang sama sampai terakhir Rasulullah bertanya, “Bukankah bersama engkau (hafal) ayat kursi?”. Ia menjawab, “Benar ya Rasulullah”. Maka Rasulullah bersabda, “Ia senilai dengan seperempat Al-Qur’an”.
Keagungan ayat kursi semakin jelas karena ayat ini secara terperinci mengandungi penjelasan akan sifat-sifat dzat Allah swt; dari sifat Wahdaniyah yang dinyatakan oleh Allahu La Ilaha Illah Huwa”, Sifat Maha Hidup yang berkekalan (Al-Hayyu), sifat Maha Kuasa dan berdiri sendiri (Al-Qayyum), bahkan sifat Qayyum Allah diperkuat dengan penafian akan segala yang mengarah kepada kelemahan, seperti “Tidak mengantuk dan tidak tidur”. Begitu juga dengan sifat memiliki yang berkuasa untuk melakukan apa saja terhadap makhluk yang dimilikiNya. Sifat iradah (berkehendak) yang ditunjukkan oleh kalimat “mandzalladzi yasyfa’u…”, dan iradah Allah di sini adalah pada urusan yang paling besar, yaitu syafa’at yang tidak dimiliki oleh siapapun kecuali atas izin Allah swt. Juga sifat “Ilm yang dinyatakan oleh “ya’lamu ma baina…..”. Terakhir sifat-sifat dzatiyyah Allah ditutup dengan sifat yang menunjukkan ketinggian dan keagunganNya, “Wahuwal Aliyyul Adzim”. Ibnu Abbas menuturkan, “Yang sempurna dalam ketinggian dan keagunganNya”.
Inilah sifat penutup bagi ayat kursi untuk menetapkan ke-Esa-an Allah pada kebesaran dan ketinggianNya. Alif Lam Ma’rifah yang digunakan dalam kedua sifat terakhir ”Al-Aliyyu Al-Adzimu” sesungguhnya untuk membatasi sifat itu hanya milik Allah Yang Maha Suci, tanpa ada yang bersekutu denganNya. Bahkan tidak ada seorang hamba pun yang berusaha mencapai posisi kebesaran dan ketinggian seperti ini melainkan Allah akan mengembalikannya kepada kehinaan dan kerendahan di akhirat kelak Allah swt berfirman, ”Negeri akhirat itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi..” (Al-Qashash: 83)
Demikianlah ayat kursi hendaknya dijadikan prinsip dan acuan dalam berinteraksi dengan Allah dan dengan seluruh makhlukNya. Hanya Allah Pemilik segala sifat kesempurnaan, sedangkan manusia tidak layak memakai pakaian kebesaran Allah. Keyakinan yang mendalam akan seluruh sifat-sifat Allah akan mampu melahirkan perasaan khauf (takut) akan murka dan azab Allah jika kita melanggar aturanNya. Begitu juga akan mampu melahirkan sifat raja’ (penuh harap) kepada kasih sayang dan rahmat Allah swt.
Label: Tafsir
Berkata Imam al-Haramain : “Tidak kutemui orang yang paling alim diantara orang yang alim, kecuali 3 orang : ‘Atha, Thawus dan Mujahid..”
Kalau kita menerawang jauh ke empat belas abad yang lampau, maka akan nampak oleh kita sebuah majlis ta’lim di Makkah yang selalu dihadiri oleh ribuan orang, diantara mereka ada para sahabat-sahabat nabi SAW dan juga para tabi’in, sang penceramah adalah seorang tua yang sederhana namun kharismatik, dialah AbduLLAH bin Abbas ra (Ibnu Abbas) salah seorang diantara para tokoh ulama sahabat, dan dia pula yang didoakan oleh RasuluLLAH SAW dengan doanya yang khusus: “ALLAHUMMA FAQQIHHU FIDDIN WA ‘ALLIMHU TA’WIL” (Ya ALLAH dalamkanlah pengetahuannya dalam agama dan ajarilah ia ta’wil Qur’an…)
Ibnu Abbas ra memiliki seorang budak hitam yang kurus, demikian hitamnya kulit budak ini sehingga jika ia berdiri bagaikan seekor burung gagak hitam (ghurabil-aswad) yang menakutkan. Namun hitamnya kulit tidak membuatnya merasa rendah, karena Islam telah membebaskan manusia dari perbudakan manusia atas manusia menjadi perbudakan manusia hanya oleh dan untuk ALLAH SWT saja. Hanya Islam sajalah peradaban yang mampu menempatkan seorang budak hitam Afrika bernama Bilal al Habasyi, budak bangsa Persia Salman al Farisi, dan budak dari Rumawi Shuhaib bin Sinan ar Rumi sederajat dan bahkan lebih tinggi dari para pemuka Quraisy seperti Abu Sufyan bin Harb.
Selama hidupnya ‘Atha membagi waktunya untuk 2 hal : Pertama, khusus untuk Tuhannya dengan melakukan ibadah yang terbaik, terikhlas dan semurni-murninya; sehingga setiap malam ia sedikit sekali tidur karena melakukan qiyam, zikir dan doa. Kedua, untuk menuntut ilmu kepada para ulama, tercatat diantara nama guru-gurunya yaitu para shahabat besar seperti Ibnu Abbas ra, Ibnu Umar ra, Abu Hurairah ra, Ibnu Zubair ra, dll. Ia selalu berkata : “Orang sebelum kalian membenci omong-kosong, yaitu segala sesuatu selain al-Qur’an yang dibaca dan dipelajari, atau Hadits yang diriwayatkan dan diamalkan, atau amar ma’ruf dan nahi munkar, atau ilmu untuk mendekatkan diri kepada ALLAH, atau bekerja mencari nafkahmu. Bacalah oleh kalian kalau mau : Dan orang-orang yang menjauhi perkataan yang tidak bermanfaat (QS al-Mu’minun, 23:3).”
Dibandingkan dengan manusia lainnya, ‘Atha adalah termasuk manusia pilihan yang sangat jarang orang yang mampu berdisiplin sepertinya. Ia mendisiplin dirinya sehingga selama hidupnya tidak pernah sekalipun melakukan hal yang tidak bermanfaat sebagaimana yang dilakukan oleh pemuda-pemuda kebanyakan, dan selama hidupnya ia tidak pernah ngobrol dan bercanda. Pernah dalam suatu perjalanan ia melihat sebuah kota yang telah ditinggalkan penghuninya, lalu ia berfikir : Kapan kota ini didirikan? Kemudian ia menyesali diri karena memikirkan sesuatu yang tidak bermanfaat dan karenanya ia menghukum dirinya untuk berpuasa selang-sehari selama setahun penuh. Waktunya seumur hidupnya selalu dihabiskan untuk belajar, berfikir dan beribadah, ia sangat serius dalam hidupnya dan agar ia tidak terganggu maka selama 20 tahun ia hanya tinggal di dalam masjidil Haram.
Pernah suatu hari ia ditegur oleh orang-orang tentang keseriusannya yang dianggap berlebihan oleh mereka, maka ia menjawab : “Aku bersaksi bahwa aku sangat percaya pada adanya malaikat yang mulia lagi mencatat seluruh amalku, lalu tidak malukah jika nanti diumumkan di depan orang-orang di hari Kiamat nanti lalu banyak ditemukan hal-hal yang bukan ibadah kepada-NYA?!”
Karena disiplin dan keseriusannya yang luar biasa dalam belajar inilah ia mencapai derajat tertinggi dikalangan para ulama, sehingga banyak orang yang mengambil manfaat dari keluasan ilmunya. Salah satu contohnya, Imam Abu Hanifah suatu kali pernah bercerita : “Aku pernah salah dalam 5 fiqh Manasik (Hajji) dan aku diingatkan oleh seorang tukang cukur! Yaitu ketika aku duduk untuk tahallul (bercukur setelah selesai hajji) aku bertanya pada tukang cukur itu berapa ongkos cukurnya? Maka ia menjawab bagi orang yang hajji tidak ditetapkan ongkos, maka aku merasa sangat malu dan berfikir siapa tukang cukur ini, lalu aku duduk, maka kata tukang cukur itu : Hendaklah anda menghadap qiblat, maka aku menjadi semakin malu, lalu aku langsung berikan kepalaku untuk dicukur, lalu ia berkata lagi : Hendaknya yang kanan dulu, lalu kuberikan yang sebelah kanan sambil terus berfikir, lalu ia berkata lagi : Perbanyaklah takbir! Maka akupun bertakbir lalu ketika selesai segera kusodorkan uang dan ingin terus berlalu, lau ia berkata lagi : Jangan lupa shalat 2 raka’at.
Maka dengan penasaran kutanya darimana dia tahu tentang semua hukum fiqh tersebut? Maka jawabnya : Dulu aku pernah mencukur ‘Atha bin Abi Ribah dan kupelajari semua yang diperbuatnya ketika itu dan kuamalkan.”
Dan selama hidupnya tidak ada orang yang berani berfatwa di masjidil Haram karena hormat akan kedalaman dan keluasan ilmu agama yang dimilikinya, sehingga ia dijuluki SAYYIDUL FUQAHA AL HIJAZ (Pemimpin para ahli Fiqh di Makkah dan Madinah…)
Semua orang sangat hormat pada dirinya bahkan ia lebih dihormati dari Khalifah sendiri, kendatipun demikian ‘Atha adalah seorang yang sangat tawadhu’ (rendah hati) dan ia sangat membenci kesombongan dan orang yang sombong, selama hidupnya ia hanya memakai pakaian yang termurah (5 dirham saja). Pernah suatu hari Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik datang dan melakukan hajji dan ketika Thawaf di Baitul Haram orang-orang berusaha minggir menghormatinya, maka ‘Atha marah dan berkata : DA’HU YATA’ALLAMA BI MAWQIF ALLADZI TAQTULU KIBRIYA’UHU! (Biarkan ia disakiti dengan kondisi yang dapat membunuh kesombongannya…)
Maka setelah itu khalifah memanggilnya untuk bertanya tentang beberapa hukum agama, maka ia berkata kepada utusan khalifah tersebut : AL ‘ILMU YU’TA ‘ALAIHI WALAM YA’TI! (Ilmu itu didatangi dan bukan mendatangi…), maka khalifahpun datang kepadanya dan meminta nasihat, maka kata ‘Atha : “Takutlah pada ALLAH wahai Amirul Mu’minin, ingatlah bahwa engkau diciptakan sendiri, dilahirkan sendiri, dimatikan sendiri, dibangkitkan sendiri dan akan dihisab sendiri pula, maka tak ada yang dapat membantumu untuk dunia dan akhiratmu kecuali ALLAH SWT.”
Maka khalifah menangis mendengar taushiyyah (nasihat) tersebut dan memberinya hadiah dari emas dan perak, tapi ditolak dengan halus oleh ‘Atha sambil berkata : “Katakanlah : Kami tidak menginginkan balasan dari kalian dan tidak pula ucapan terimakasih, karena sesungguhnya kami takut akan suatu hari dimana manusia saat itu gelap wajah-wajahnya (ayat)..”
Ketika wafatnya, ribuan orang menshalatkan sampai-sampai di masjidil Haram dilaksanakan shalat janazah berkali-kali karena banyaknya yang ingin menshalatkan. Dan ketika mereka mengangkat jenazahnya, maka mereka semua terheran-heran karena mayatnya sangat ringan seperti bulu, sebab tidak sedikitpun membawa keduniaan serta dipenuhi oleh berbagai bekal untuk akhirat yang banyak…
Berkata Alqamah bin Muriid (ulama Nejd): “Zuhud berakhir pada 8 orang, yang paling utama diantara mereka adalah Amir bin AbduLLAH…”Ia dilahirkan pada masa khalifah Umar ra di kota Bashrah, yaitu kota yang menjadi pos penyerangan kaum muslimin terhadap orang-orang Persia, untuk menyebarkan dakwah dan meninggikan kalimatuLLAH di bumi.
Amir bin AbduLLAH at Tamimi al Anbari rahimahuLLAH adalah seorang yang berbadan tegap, panjang janggutnya, wajahnya bercahaya (karena amat sangat banyak beribadah), suci akhlaqnya dan dibesarkan dari sejak kecil dalam ketaqwaan kepada ALLAH SWT.
Ketika ia berangkat dewasa, ia senantiasa ikut dalam peperangan yang dilakukan oleh para sahabat ra, kendatipun demikian ia tidak pernah bernafsu terhadap ghanimah (harta rampasan perang) berupa emas dan permata yang didapatkannya, ia sangat zuhud terhadap dunia dan berjihad semata-mata mengharap ridha ALLAH dan ia sangat memimpikan dapat terbunuh sebagai syahid.
Pemimpin Bashrah saat itu adalah seorang sahabat yang terkenal, Abu Musa al-Asy’ariy ra yang selalu memimpin langsung pertempuran-pertempuran kaum muslimin, maka Amir selalu mengikuti Abu Musa dan tak pernah jauh dari beliau. Setiap hari ia membagi waktunya menjadi 3 bagian: Mengajar Islam di mesjid Bashrah, berkhalwat (menyendiri) di malam hari untuk bersujud dan berjihad fi sabiliLLAH dengan pedangnya. Sehingga ia digelari: ‘Abidil Bashrah wa zaahidihaa… (Ahli Ibadah dan Ahli Zuhud dari Bashrah).
Pada setiap malam dalam peperangannya, saat para pasukan telah terlelap, ia selalu menyendiri shalat lalu dengan berlinangan airmata ia merintih: “ILAHI ENGKAU telah menciptakanku dengan ketentuan-MU… Dan telah KAU tempatkan aku dalam cobaan dunia ini… Lalu KAU katakan dalam firman-MU: Bersabarlah! Maka bagaimana aku dapat bersabar dari kelembutan-MU… ILAHI ENGKAU Maha Mengetahui, jika seluruh dunia ini ada yang memintanya dariku niscaya akan kuberikan seluruhnya… Duhai betapa aku cinta kepada-MU, maka mudahkanlah aku dari musibah yang menimpaku ini, relakan aku atas qadha’-MU, sungguh aku tak peduli dengan yang lain wahai Kekasih, selain cinta-MU pada-KU…”
Lalu ia terus shalat dan berdoa sampai Shubuh, lalu ketika hampir Shubuh ia berdoa lagi: “ILAHI, shubuh telah tiba, dan orang-orang telah mulai bangun untuk mencari rizqi-MU, dan tiap mereka berhajat kepada-MU… Adapun hajat Amir kepada-MU hanyalah ampunan-MU… Ya ALLAH, kabulkanlah hajatku dan hajat mereka… ILAHI hanya satu hajatku yang KAU tolak, yaitu agar KAU lepaskan rasa kantuk dariku siang dan malam selamanya, agar aku dapat beribadah kepada-MU sebagaimana cintaku kepada-MU…”
Ia adalah benar-benar bagaikan ‘Ubbadun bil Lail wa Fursanun bin Nahar… (Ahli Ibadah di malam hari karena banyaknya beribadah dan menangis dan penunggang kuda di siang hari sebab selalu terdepan di medan jihad). Ia selalu berpesan pada teman-temannya di medan jihad: “Aku minta pada kalian 3 permintaan dan jangan kalian tolak, pertama aku ingin menjadi pelayan kalian yang menyediakan semua kebutuhan kalian, kedua aku ingin terus menjadi mu’azzin kalian setiap waktu shalat, dan ketiga aku ingin menafkahi semua kebutuhan kalian dengan uangku semampuku.”
Ketika kaum muslimin berhasil mengalahkan kerajaan Persia maka berlimpahlah berbagai harta yang tak ternilai seperti mahkota-mahkota dan perhiasan dari emas dan berlian yang sangat indah dan mahal ke tangan kaum muslimin yang sangat miskin saat itu. Amir bin AbduLLAH adalah orang pertama yang berhasil membuka gudang penyimpanan harta Maharaja Persia, lalu dibawanya semua itu kepada panglimanya Qa’qa bin Amru sambil berkata: “Inilah semua simpanan kekayaan raja-raja Persia yang terbaik.” Maka Qa’qa memandangnya seakan tak percaya, maka kata Amir : “Demi ALLAH, semuanya ini tak berharga bagiku walaupun seujung kukuku ini.”
Walaupun ia adalah seorang mujahid yang selalu bertempur melawan berbagai pasukan kuffar, tetapi ia sangat pengasih dan penyantun. Pernah suatu ketika ia melihat seorang Ahlu Dzimmah (orang kafir yang tunduk pada peraturan negara Islam) yang dianiaya, maka ditamparnya orang yang menganiaya itu, sehingga iapun dikeroyok beramai-ramai dan dicekik lehernya, sambil terengah-engah menahan mereka ia berkata: “WALLAHI! Jangan sekali-kali berani mengusik Dzimmah ar-Rasul selama aku masih hidup…”
Sebagai seorang yang sangat zuhud ia senantiasa berpesan agar jangan sekali-kali mendekati pintu para penguasa, karena hal itu ia difitnah oleh para penjilat penguasa sehingga mengakibatkannya diusir oleh khalifah agar ia pindah ke Syam (sekarang Suriah dan Yordania). Sekalipun demikian ia tidak pernah marah, bahkan ia selalu berdoa: “ALLAHumma, siapapun yang telah mendustakan aku dan menyebabkan keluarnya aku dari kota ini dan memisahkanku dari sahabat-sahabatku telah kumaafkan. Maka berilah mereka ‘afiah (keselamatan) di dunia dan akhirat mereka, dan matikanlah kami dalam ampunan, rahmat dan ‘afwah-MU…”
Ia sering menangis tiba-tiba, sambil mengulang kata-katanya: “Aku takut akan menyesal, pada hari dimana tidak berguna lagi harta dan anak-anak, kecuali orang yang datang kepada ALLAH dengan hati yang selamat…”
Amir bin AbduLLAH at-Tamimi wafat di bumi kiblat pertama kaum muslimin Palestina. Ketika akan wafat ia berkata sambil berlinangan airmata: “Alangkah panjangnya jalan dan alangkah sedikitnya bekal…” Semoga ALLAH SWT merahmatinya, amiin…
Disarikan dari kitab : SUAR MIN HAYATI TABI’IN (DR AbduRRAHMAN Rif’at Basya)
Oleh : Dr. Amir Faishol Fath
Disebut dengan An Naziaat, karena dimulai dengan ungkapan tersebut, artinya para malaikat yang mencabut nyawa anak-anak Adam. Adapun hubungan surat An Naziaat dengan surat An Naba’ sebelumnya adalah kesamaan tema di mana masing-masing sama-sama menegaskan akan terjadinya hari kebangkitan (Kiamat) sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Ringkasan surat An Naziaat sebagai berikut:
1. (ayat:1-5) Pembukaan, di dalamnya Allah bersumpah dengan: (a) Malaikat yang mencabut ruh orang-orang kafir dengan keras, membuat orang-orang kafir itu tersiksa dan merasa sakit. (b) Malaikat yang mencabut nyawa orang-orang mukmin dengan lembut (c) Malaikat yang turun dari langit dengan cepat mendahului ruh-ruh orang mukmin menuju surga(d) Malaikat yang mengatur segala sesuatu untuk memenuhi kebutuhan penduduk bumi.
2. (ayat: 6-14) Allah menegaskan dengan sumpahnya bahwa Hari Kiamat pasti terjadi, dibuka dengan tiupan sangkakala, dan pada saat itu orang-orang kafir ketakutan, mereka menyesal mengapa selama di dunia tidak mentaati Allah. Mereka merasa rugi, telah membuang-buang waktu dalam pekerjaan tidak ada gunanya.
3. (ayat: 15-26) Allah menghibur Rasulullah dengan kisah Nabi Musa saat menghadapi Firaun. Supaya hatinya tidak sedih ketika melihat orang-orang Kafir Makkah tidak beriman dan mendustakan risalahnya. Pada kesempatan ini seakan Allah berfirman: Wahai Muhammad bukan hanya kamu yang ditolak dan dilawan oleh orang-orang kafir, Musa dulu juga pernah dilawan oleh Fir’aun. Dan Fir’aun perlawanannya lebih sadis lagi, karena tingkat kekafirannya telah mencapai puncak, perhatikan ia berkata ” Aku Tuhanmu yang paling tinggi”. Kisah ini juga bekal bagi para penerus perjuangan Rasulullah di setiap tempat dan zaman, sehingga ia tidak merasa sedih saat menghadapi tantangan.
4. (ayat: 27-33) Allah menyebutkan bukti-bukti kekuasaannya, agar tidak muncul lagi pribadi seperti Fir’aun yang mengingkari kebenaran. Dalam hal ini Allah menantang: buktikan mana lebih sulit menciptakan langit atau menciptakan kamu? Siapa yang mengangkat langit seluas ini tanpa tiang? Siapa yang mendatangkan malam dan siang? Seandainya semuanya malam apa yang akan terjadi pada kamu? Begitu juga sebaliknya? Siapa yang membuat bumi menghampar? Membuat gunung sebagai pasak sehingga bumi ini tegak dengan seimbang? Memancarkan air dan lain sebagainya? Siapa? Ayo jawab kamu atau Aku? Masihkah kau akan sombong? Merasa bisa segalanya. Lalu tidak mau beriman kapadaKu? Masihkah tidak percaya atas kemampuanku untuk membangkitkan kamu kembali setelah mati?
5. (ayat: 34-41) Allah menggambarkan bagaimana keadaan manusia pada saat Hari Kiamat tiba: Pada waktu itu manusia mulai mengingat masa lalunya ketika api neraka benar-benat ditampakkan didepan hidungnya. Masing-masing mulai siap-siap mempertanggungjawabkan sekecil apapun yang pernah ia lakukan selama di dunia. Sebab ternyata semua amal terdaftar secara rapi. Tidak ada amal sekecil atom atau lebih kecil lagi (baca: dzarrah) yang terlewatkan. Lalu Allah membagi manusia dua golongan: (a) golongan orang-orang yang dulunya tidak mau ikut ajaran Allah, tunduk pada hawa nafsu dan kepentingan dunia, mereka itu ahli neraka Jahim (b) golongan orang-orang yang dulunya taat kepada Allah dan menahan hawa nafsunya dari perbuatan maksiat, mereka itu penduduk surga.
6. (ayat: 42-46) Allah menutup surat ini dengan kisah perbuatan orang kafir Makkah yang mengejek Rasulullah dengan bertanya-tanya kapan Muhammad Hari kiamat yang kau janjikan akan terjadi? (Mirip dengan pembukaan surat An Naba’). Tapi Allah segera mengajarkan Rasulullah: wahai Muhammad itu bukan tugasmu menjawab mengenai waktu Kiamat, karena hanya Aku yang tahu. Tugasmu hanya menyampaikan risalah dan ajaran dariKu supaya mereka tahu bahwa Kiamat pasti dan pasti terjadi dalam sekejap dan dalam waktu yang sangat singkat, seperti perubahan dari waktu siang ke malam hari. []
Label: Tafsir
